JAKARTA – Bagaimana jika persoalan pencurian kendaraan bermotor (curanmor), peredaran narkoba, sampah menumpuk, hingga minimnya kegiatan pendidikan dan ekonomi warga bisa diatasi melalui inovasi yang dimulai dari lingkungan RT? Inilah gagasan yang dipaparkan IPTU Imam Basori melalui inovasi Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan) di hadapan pengurus RT/RW, Dasawisma, dan PKK di Kelurahan Makassar, Jakarta.
Anggota Baintelkam Mabes Polri yang akrab disapa Ibas tersebut membagikan pengalaman penerapan inovasi di lingkungan RT 11 RW 7, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia menekankan bahwa penyelesaian persoalan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan perangkat dan sistem, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang tepat, komunikasi, serta keterlibatan aktif warga.
Dalam pemaparannya, Imam menjelaskan bahwa Bang Jali kini dikembangkan melalui empat pilar utama yang saling melengkapi, mulai dari keamanan lingkungan hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pilar pertama adalah keamanan, melalui berbagai inovasi seperti e-Gate 11, GPS, CCTV yang terhubung ke ponsel, Si Jaga Warga, Alarm Panic Button, dan Patrolink untuk mendukung kegiatan patroli lingkungan.
Pilar kedua adalah lingkungan, yang mencakup KOMA (Komposter Mandiri) untuk pengolahan sampah organik, Komling (Kompos Keliling) untuk pengumpulan sampah organik, serta Smart Geprek untuk memadatkan botol plastik dan kaleng agar lebih mudah dikelola.
Pilar ketiga adalah pendidikan, melalui Pojok Baca dan program RT Inggris yang mendorong warga, termasuk anak-anak dan pelaku usaha kecil, untuk belajar serta mempraktikkan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, pilar keempat adalah ekonomi, melalui RT11Mart yang dirancang untuk mendukung aktivitas ekonomi dan pemberdayaan UMKM di lingkungan warga.
Di hadapan para peserta, Imam juga menekankan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik dan persoalan berbeda. Karena itu, inovasi Bang Jali tidak harus diterapkan secara persis di semua lingkungan.
Ia memperkenalkan pendekatan **ATM: Amati, Tiru, dan Modifikasi**, yakni mempelajari inovasi yang sudah berjalan, mengambil praktik yang relevan, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing wilayah.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu pengurus RT/RW, Dasawisma, dan PKK mengembangkan solusi yang realistis, berkelanjutan, serta melibatkan masyarakat secara langsung.
Pemaparan Bang Jali mendapat perhatian dari para peserta. Sejumlah peserta menunjukkan ketertarikan untuk mengadaptasi inovasi tersebut, khususnya dalam penguatan keamanan lingkungan dan pengelolaan sampah.
Melalui Bang Jali, Imam berharap lingkungan tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang bersama untuk membangun keamanan, kepedulian terhadap lingkungan, pendidikan, dan kemandirian ekonomi.
“Tidak perlu menunggu program besar untuk memulai perubahan. Dengan kolaborasi dan inovasi yang sesuai kebutuhan, kemajuan bisa dimulai dari lingkungan RT sendiri.” demikian Ibas.





